Anemia Remaja Jadi Ancaman Serius Kesehatan, Ini Fakta Penting dan Cara Mencegahnya Sejak Dini
- Kamis, 12 Februari 2026
JAKARTA - Masa remaja merupakan fase penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Namun, di balik aktivitas sekolah dan keseharian yang padat, banyak remaja menghadapi masalah kesehatan yang sering luput disadari, salah satunya adalah anemia.
Kekurangan sel darah merah atau anemia menjadi masalah kesehatan yang banyak dialami remaja, terutama perempuan. Kondisi ini kerap terjadi karena remaja perempuan mengalami menstruasi setiap bulannya yang dapat menyebabkan berkurangnya kadar zat besi dalam tubuh.
Tanpa disadari, anemia dapat memengaruhi kualitas hidup remaja secara signifikan. Tubuh menjadi lebih mudah lelah, konsentrasi menurun, dan aktivitas belajar pun tidak berjalan optimal.
Baca JugaLiga Inggris: Manchester City Tampil Perkasa, Libas Fulham dengan Skor Telak 3-0
Anemia bisanya ditandai dengan gejala, seperti tubuh lemas, mudah pusing, sulit berkonsentrasi, hingga pingsan. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk kegiatan belajar di sekolah.
Masalah ini tidak boleh dianggap sepele karena dapat berdampak jangka panjang. Remaja yang mengalami anemia berisiko mengalami gangguan kesehatan berkelanjutan jika tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat.
Anemia dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kekurangan zat besi, vitamin B12, asam folat, penyakit infeksi, faktor bawaan, maupun perdarahan. Padahal, sel darah merah memiliki peran penting dalam tubuh, yakni mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh.
Peran Penting Sel Darah Merah bagi Fungsi Tubuh
Sel darah merah memiliki fungsi utama sebagai pengangkut oksigen ke seluruh organ dan jaringan tubuh. Oksigen ini dibutuhkan agar sel dapat menghasilkan energi untuk menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari.
Selain itu, sel darah merah juga berperan penting dalam pembuangan karbon dioksida dari sel-sel tubuh di paru-paru. Maka dari itu, ketika tubuh kekurangan sel darah merah penyebaran oksigen ke tubuh tidak akan optimal sehingga tubuh mudah lelah.
Ketika pasokan oksigen tidak mencukupi, otak akan menjadi salah satu organ yang paling terdampak. Hal ini menyebabkan remaja mengalami kesulitan berkonsentrasi dan mudah merasa mengantuk di siang hari.
Kondisi tersebut tentu dapat memengaruhi prestasi belajar dan produktivitas remaja di sekolah. Jika berlangsung lama, dampaknya dapat meluas hingga ke aspek sosial dan psikologis.
Tubuh yang kekurangan oksigen juga cenderung mengalami penurunan daya tahan. Akibatnya, remaja menjadi lebih mudah terserang penyakit dan membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.
Oleh karena itu, menjaga jumlah sel darah merah dalam batas normal menjadi hal penting. Upaya pencegahan anemia sejak dini dapat membantu remaja menjalani masa pertumbuhan dengan lebih optimal.
Tingginya Angka Anemia di Kalangan Remaja Indonesia
Anemia tidak hanya menjadi masalah individu, tetapi juga menjadi perhatian kesehatan masyarakat. Kondisi ini masih ditemukan cukup tinggi di berbagai daerah di Indonesia.
Dilansir dari Kementerian Kesehatan RI, 1 dari 5 anak remaja di Indonesia mengalami anemia. Jika dibiarkan hingga dewasa dan memasuki masa ibu hamil, anemia dapat menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan pada janin.
Data tersebut menunjukkan bahwa anemia bukan masalah ringan yang bisa diabaikan. Remaja yang tidak mendapatkan penanganan sejak dini berpotensi membawa kondisi ini hingga usia dewasa.
Dampaknya akan semakin besar jika anemia terjadi pada perempuan yang nantinya hamil. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan dan memengaruhi kesehatan bayi yang dikandung.
Oleh sebab itu, upaya pencegahan anemia perlu dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Keterlibatan keluarga, sekolah, dan tenaga kesehatan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kesadaran remaja.
Edukasi mengenai pentingnya zat besi dan pola makan seimbang menjadi langkah awal yang efektif. Dengan pengetahuan yang cukup, remaja diharapkan dapat lebih peduli terhadap kesehatan tubuhnya sendiri.
Peran Program Tablet Tambah Darah dalam Pencegahan Anemia
Sebagai upaya pencegahan, pemerintah menjalankan Program Tablet Tambah Darah (TTD) untuk para remaja perempuan umur 12-18 tahun dan juga ibu hamil. Program yang telah dimulai sejak 2012 ini bertujuan untuk meningkatkan kadar zat besi dalam tubuh sekaligus menekan risiko stunting.
Program ini menjadi salah satu langkah strategis dalam menurunkan angka anemia di Indonesia. Pemberian tablet tambah darah dilakukan secara rutin melalui sekolah dan fasilitas kesehatan.
Tablet tambah darah adalah suplemen gizi yang mengandung 60 mg besi elemental dan 400 mcg asam folat. Konsumsi rutin tablet tambah darah sesuai anjuran dapat membantu mencegah dan mengatasi anemia sejak dini.
Kandungan zat besi dalam tablet tersebut berfungsi meningkatkan produksi sel darah merah. Sementara itu, asam folat berperan penting dalam pembentukan sel darah dan pertumbuhan jaringan tubuh.
Meski demikian, konsumsi tablet tambah darah sering kali masih menghadapi kendala kepatuhan. Beberapa remaja enggan mengonsumsinya karena efek samping ringan seperti mual atau rasa tidak nyaman di perut.
Padahal, manfaat jangka panjang dari konsumsi tablet tambah darah jauh lebih besar dibandingkan efek samping sementara. Dengan penggunaan yang konsisten, kadar zat besi dalam tubuh dapat meningkat secara signifikan.
Pola Makan Seimbang untuk Mendukung Pencegahan Anemia
Agar penyerapannya lebih optimal, konsumsi tablet tambah darah sebaiknya juga dibarengi dengan makanan bergizi seimbang, terutama sumber vitamin C, seperti buah-buahan serta protein hewani, seperti daging, ikan atau unggas. Kombinasi ini membantu tubuh menyerap zat besi dengan lebih efektif.
Vitamin C berperan meningkatkan daya serap zat besi non-heme yang berasal dari sumber nabati. Oleh karena itu, konsumsi buah seperti jeruk, jambu biji, atau pepaya sangat dianjurkan bersamaan dengan tablet tambah darah.
Selain itu, protein hewani mengandung zat besi heme yang lebih mudah diserap tubuh. Sumber protein seperti daging merah, ayam, dan ikan dapat menjadi pilihan menu sehari-hari untuk mencegah anemia.
Pola makan yang seimbang juga perlu mencakup sayuran hijau, kacang-kacangan, serta biji-bijian. Makanan tersebut mengandung berbagai vitamin dan mineral yang mendukung pembentukan sel darah merah.
Dengan mengombinasikan asupan makanan bergizi dan konsumsi tablet tambah darah, risiko anemia dapat ditekan sejak usia remaja. Langkah ini juga membantu menjaga stamina dan daya tahan tubuh agar tetap optimal.
Dengan mengonsumsi rutin tablet tambah darah dan menerapkan pola makan sehat, anemia pada remaja dapat dicegah sejak dini dan kesehatan tubuh akan tetap terjaga hingga dewasa.
Zahra
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Hasil Liga Inggris: Liverpool Menang Tipis dan "Beruntung" Saat Menghadapi Sunderland
- Kamis, 12 Februari 2026
Prediksi Pisa vs AC Milan: Pertarungan Sengit di Hari Valentine Serie A 2026
- Kamis, 12 Februari 2026
Serie A Pekan 24: Jadwal Padat dan Kondisi Kebugaran Pemain Menjadi Sorotan Utama
- Kamis, 12 Februari 2026
Berita Lainnya
Prediksi Pisa vs AC Milan: Pertarungan Sengit di Hari Valentine Serie A 2026
- Kamis, 12 Februari 2026
Serie A Pekan 24: Jadwal Padat dan Kondisi Kebugaran Pemain Menjadi Sorotan Utama
- Kamis, 12 Februari 2026
Real Madrid dan UEFA Resmi Sepakat Damai Usai Kegagalan Proyek Super League
- Kamis, 12 Februari 2026
Terpopuler
1.
2.
3.
4.
Rangkuman Rekomendasi Saham Hari Ini 12 Februari 2026
- 12 Februari 2026
5.
Rangkuman Rekomendasi Saham Hari Ini 12 Februari 2026
- 12 Februari 2026








