JAKARTA - Produksi batu bara China pada 2026 diprediksi naik, tetapi dengan laju paling lambat dalam satu dekade terakhir. Asosiasi industri memperkirakan output bertambah sekitar 35 juta metrik ton menjadi 4,86 miliar ton, hanya setara pertumbuhan 0,7 persen.
Kenaikan ini jauh lebih rendah dibanding tren beberapa tahun sebelumnya. Perlambatan terjadi bersamaan dengan proyeksi penurunan impor batu bara untuk tahun kedua berturut-turut.
Pengaruh Kebijakan Indonesia terhadap Pasokan Batu Bara
Indonesia, sebagai pemasok terbesar, menghentikan ekspor spot dan berencana memangkas kuota produksi secara signifikan. Kebijakan ini menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi penurunan impor batu bara China pada 2026.
Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara China memperkirakan impor akan turun 5,1 persen menjadi 465 juta ton. Penurunan pasokan ini membuat China cenderung lebih mengandalkan stok dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan energi.
Konsumsi Dalam Negeri dan Stok yang Semakin Dimanfaatkan
Laju konsumsi batu bara di China diperkirakan tetap lebih cepat dibanding pertumbuhan pasokan. Akibatnya, cadangan domestik akan digunakan lebih intensif untuk menjaga ketersediaan energi.
Meski impor turun, produksi dalam negeri masih memiliki potensi untuk ditingkatkan. Jika pengurangan impor terjadi lebih dalam dari perkiraan, stok domestik dapat dioptimalkan untuk menutupi kekurangan pasokan.
Perubahan Struktur Energi di China
Pada 2025, pembangkit listrik berbasis batu bara di China mengalami penurunan produksi untuk pertama kali dalam satu dekade. Hal ini disebabkan meningkatnya kapasitas energi terbarukan yang mampu menopang permintaan listrik hingga 5 persen.
Kapasitas energi baru mampu menahan lonjakan konsumsi listrik sehingga kebutuhan batu bara menjadi lebih fleksibel. Pembangkit batu bara baru kini dibangun lebih untuk menjaga stabilitas sistem kelistrikan, bukan sebagai sumber energi utama.
Peran Batu Bara yang Berubah Menjadi Fleksibilitas
Menurut analis energi, pembangkit batu bara kini beralih dari pemasok utama menjadi penyedia fleksibilitas. Sebagian armada diubah menjadi cadangan untuk menopang kebutuhan listrik saat permintaan memuncak.
Data menunjukkan tingkat pemanfaatan pembangkit batu bara menurun dari 60 persen pada 2011 menjadi 48,2 persen pada 2025. Proyeksi penggunaan terus menurun hingga hanya 32 persen pada 2035, menunjukkan penurunan peran komoditas ini dalam jangka panjang.
Dampak Kebijakan dan Transisi Energi pada Pasar Global
Pemangkasan produksi Indonesia dan transisi energi China diperkirakan akan memengaruhi pasar global secara signifikan pada 2026. Para pelaku industri kini menunggu keseimbangan baru antara produksi, impor, dan konsumsi terbentuk.
Perubahan ini bisa memicu volatilitas harga batu bara serta strategi penyesuaian para eksportir. Ketersediaan batu bara domestik dan impor menjadi kunci dalam menjaga stabilitas pasokan bagi raksasa ekonomi dunia ini.
Prospek Jangka Pendek dan Pentingnya Batu Bara
Meskipun energi terbarukan semakin dominan, batu bara tetap menjadi penopang penting dalam jangka pendek. Peran strategisnya masih diperlukan untuk menjamin keandalan listrik bagi industri dan konsumen di China.
Transisi energi berjalan paralel dengan penyesuaian pasar batu bara global. Kombinasi kebijakan pemangkasan produksi dan perubahan konsumsi energi menjadi sorotan utama bagi pelaku industri dan pemerintah.
Kesimpulan: Keseimbangan Baru di Pasar Batu Bara Global
Dengan perlambatan produksi China dan pengurangan impor dari Indonesia, pasar batu bara global akan menghadapi dinamika baru. Industri harus menyesuaikan strategi produksi, distribusi, dan stok untuk menghadapi perubahan permintaan.
Perubahan ini menunjukkan pentingnya fleksibilitas dan efisiensi dalam menghadapi transisi energi. Batu bara masih memegang peran penting sementara energi terbarukan perlahan mengambil porsi utama dalam sistem energi China.