JAKARTA - Industri besi dan baja Indonesia tengah menghadapi tantangan yang signifikan, terutama dalam menghadapi persaingan ketat dengan produk impor yang murah.
Dalam Musyawarah Nasional (Munas) Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) 2026, para pelaku industri besi dan baja mengungkapkan kekhawatiran mereka terkait perlunya kebijakan proteksi yang lebih tegas dari pemerintah, agar industri dalam negeri tetap dapat bersaing dan memanfaatkan peluang dari proyek-proyek strategis pemerintah. Dalam upaya mewujudkan hal ini, berbagai kebijakan dan langkah transformasi dianggap sangat penting.
Tantangan yang Dihadapi Industri Besi dan Baja
Baca JugaMendag Laporkan 149 Pasar Terdampak Bencana Kembali Beroperasi
Industri besi dan baja di Indonesia, yang merupakan salah satu sektor penting dalam perekonomian, menghadapi sejumlah masalah struktural.
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perindustrian, Saleh Husin, mengungkapkan bahwa sektor ini masih berhadapan dengan masalah seperti impor baja yang berlebihan, praktik perdagangan tidak adil, dan rendahnya tingkat pemanfaatan kapasitas produksi dalam negeri.
Selain itu, para pelaku industri juga dituntut untuk memenuhi standar global yang semakin ketat.
Impor Baja yang Berlebihan
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh industri ini adalah melonjaknya volume impor baja yang tidak hanya mengancam keberlangsungan industri baja lokal tetapi juga membanjiri pasar dengan produk-produk murah yang tidak dapat diproduksi oleh industri domestik.
Saleh Husin menyoroti hal ini dalam kesempatan Munas IISIA 2026, dengan menjelaskan bahwa produk baja yang beredar di pasar, yang disebut dengan "besi banci", sangat merugikan industri dalam negeri.
Besi banci adalah produk yang tidak memenuhi standar dan sering kali menghindari kewajiban perpajakan, yang membuat harga produk ini jauh lebih murah dan merugikan para produsen yang telah mematuhi aturan.
Praktik Perdagangan Tidak Adil
Selain itu, praktik perdagangan tidak adil yang mencakup penghindaran pajak dan ketidakpatuhan terhadap standar nasional juga semakin memperburuk kondisi industri besi dan baja.
Dalam beberapa kasus, produk baja yang diimpor justru dibanderol dengan harga yang sangat rendah, sehingga menjadi lebih kompetitif dibandingkan dengan produk dalam negeri. Hal ini, menurut Saleh, menyulitkan pelaku industri dalam negeri untuk bersaing secara sehat.
Tiga Fokus Kebijakan untuk Memperkuat Industri Baja Nasional
Kadin menilai bahwa pemerintah perlu menajamkan kebijakan yang ada untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh industri besi dan baja Indonesia. Dalam hal ini, Saleh Husin mengungkapkan ada tiga fokus utama kebijakan yang perlu menjadi perhatian pemerintah:
1. Perlindungan Industri Baja Nasional
Perlindungan terhadap industri baja dalam negeri sangat penting agar bisa bersaing dengan produk impor yang murah. Saleh mengungkapkan bahwa salah satu langkah penting adalah memastikan bahwa produk baja yang beredar di pasar memenuhi standar nasional dan tidak melanggar peraturan yang berlaku.
Oleh karena itu, pemerintah perlu lebih aktif dalam menindak produk-produk baja yang tidak sesuai standar atau yang menghindari kewajiban pajak.
2. Prioritas Penggunaan Baja Nasional untuk Proyek Strategis
Saleh juga menekankan pentingnya prioritas penggunaan baja dalam negeri untuk proyek-proyek strategis pemerintah. Salah satunya adalah program pembangunan rumah dengan target tiga juta unit.
Selain itu, proyek-proyek yang dibiayai oleh APBN dan APBD juga harus memprioritaskan penggunaan produk baja nasional. Ini penting untuk mendorong pemanfaatan kapasitas produksi domestik dan memastikan bahwa industri baja dalam negeri bisa tumbuh dan berkembang.
3. Dukungan terhadap Teknologi dan Produk Hijau
Terakhir, Saleh menekankan perlunya dukungan untuk investasi teknologi yang ramah lingkungan. Dengan adanya insentif untuk investasi teknologi rendah karbon dan efisiensi energi, industri besi dan baja dapat beradaptasi dengan perkembangan global dan menjadi lebih berdaya saing di pasar internasional.
Komitmen Pemerintah dan Harapan untuk Transformasi Industri Baja
Ketua Umum IISIA, M. Akbar Djohan, juga menyatakan bahwa adanya komitmen pemerintah untuk mendukung industri besi dan baja nasional melalui berbagai kebijakan, seperti anti-dumping, memberi harapan baru bagi sektor ini.
Namun, Akbar mengakui bahwa untuk dapat bersaing secara global, ekosistem industri besi dan baja nasional harus melakukan transformasi fundamental, termasuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Peluang Proyek Strategis
Akbar juga menyoroti peluang besar dari proyek strategis pemerintah di berbagai sektor, seperti maritim dan ketahanan energi. Program pembangunan kapal dan proyek-proyek di sektor ketahanan pangan yang melibatkan pembangunan kapal nelayan diyakini akan membuka peluang besar bagi industri besi dan baja.
Dengan adanya permintaan dari proyek-proyek ini, sektor industri baja dapat berkembang lebih cepat, mulai dari hulu hingga hilir.
Perlunya Kebijakan Proteksi yang Tegas
Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti, menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk memberikan proteksi terhadap industri baja nasional. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan pembentukan komite anti-dumping untuk menindak produk impor yang merugikan industri dalam negeri.
Dyah juga menyatakan bahwa importasi produk baja perlu disesuaikan dengan kebutuhan pasar domestik. Produk baja yang tidak dapat diproduksi di dalam negeri tetap bisa diimpor, namun produk yang sudah tersedia di pasar domestik harus lebih ketat pengawasannya.
Penindakan Kasus Penghindaran Pajak
Sementara itu, Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Bimo Wijayanto, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menindaklanjuti keluhan pelaku industri terkait peredaran "besi banci".
Pemeriksaan terhadap 40 perusahaan yang diduga terlibat dalam praktik penghindaran pajak kini sedang berjalan. Penindakan ini diharapkan dapat menciptakan iklim kompetisi yang lebih sehat bagi industri baja nasional.
Prospek dan Tantangan ke Depan
Meskipun kinerja industri logam dasar, termasuk baja, tercatat tumbuh pesat pada tahun 2025 dengan angka pertumbuhan 15,71%, namun Harry Warganegara, Direktur Eksekutif IISIA, menyoroti bahwa pertumbuhan tersebut belum merata.
Banyak sektor yang masih mengalami tekanan, terutama dalam hal konsumsi domestik yang belum pulih sepenuhnya dan peningkatan impor baja.
Oleh karena itu, Harry menekankan bahwa pengendalian impor dan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) sangat penting untuk mendorong daya saing industri dalam negeri.
Harry juga mengingatkan bahwa keberlanjutan industri baja nasional sangat bergantung pada penguatan industri baja bernilai tambah.
Salah satu langkah penting yang perlu diambil adalah dengan meningkatkan kualitas produk baja dan memperkenalkan produk-produk baru yang dapat memenuhi permintaan pasar internasional.
Dengan berbagai upaya proteksi, transformasi industri, dan dukungan kebijakan yang jelas, harapan untuk kebangkitan industri besi dan baja Indonesia pada 2026 semakin besar.
Jika kebijakan ini dijalankan dengan konsisten, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi pemain utama dalam industri baja di tingkat global.
Sindi
indikatorbisnis.com adalah media online yang menyajikan berita sektor bisnis dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Tips Bumbu Ayam Lengkuas Cepat Meresap Tanpa Proses Masak Lama Efektif
- Kamis, 12 Februari 2026
Resep Kue Kering Lebaran Tanpa Telur Enak Mudah Ramah Alergi Untuk Keluarga
- Kamis, 12 Februari 2026
Cara Membuat Klepon Kenyal Tidak Lembek Tetap Bulat Cantik Saat Disajikan
- Kamis, 12 Februari 2026
Resep Apem Gula Merah Lembut Mengembang Sempurna Praktis Mudah Dibuat
- Kamis, 12 Februari 2026
Berita Lainnya
Strategi Baru DKI Jakarta Amankan Pasokan Beras Jelang Ramadan Melalui Kolaborasi Petani Daerah
- Kamis, 12 Februari 2026
Pemerintah Perkuat Perlindungan Sawah dan Petani Kecil Melalui Pengendalian Alih Fungsi Lahan
- Kamis, 12 Februari 2026
Pemerintah Dorong Proyek DME Batu Bara Disebut Wajib Libatkan Teknologi CCUS
- Kamis, 12 Februari 2026
Harga Minyak Dunia Menguat Dipicu Ketegangan Amerika Iran Dan Dinamika Pasokan Global
- Kamis, 12 Februari 2026
Terpopuler
1.
2.
3.
Mendag Laporkan 149 Pasar Terdampak Bencana Kembali Beroperasi
- 12 Februari 2026
4.
Harga Emas Antam Hari Ini 12 Februari Stabil di Rp2,94 Juta
- 12 Februari 2026












